Am i? Weak inside?
Jujur kata-kata dari salah seorang temen gua itu kemaren bikin gua kesel, marah, dan sedih. Apa selama ini gua emang berusaha tampil sok kuat, nggak peduli-an, dan sinis? Dan apakah emang bener gua ini punya mental dan jiwa yang lemah, rapuh? Who the hell do you think you are, saying that i’m weak inside? You even have no idea what kind of life i’ve been through all of these years! Gua jujur merasa sangat tertohok. Di-judge lemah, dikasihani secara tidak langsung.
Gua nggak menyalahkan teman gua itu. Dia nggak begitu kenal gua, belum lama juga. Cuma gua jadi bertanya-tanya, sebenernya definisi jiwa dan mental yang kuat tuh yang seperti apa? Apa yang tahan banting? Selalu sabar dalam menerima cobaan? Atau hanya sekedar tercermin dari tampilan si empunya yang bijaksana, berketuhanan, berkeimanan yg teguh, dan memiliki segudang kata-kata nasihat untuk segala jenis masalah, seakan-akan menujukkan klo dia adalah orang yang sudah sangat banyak makan asam garam hidup sehingga punya solusi untuk segalanya? Begitu?
I do believe in God, and do have faith that God is fair in His own way. Hanya bedanya, gua melewati tahap yang bisa dibilang pahit untuk memiliki keyakinan yang begitu rupa. Apakah gua alim? Nggak sama sekali. Gua sering menyebut diri gua sendiri kafir, walaupun belum bisa disebut atheis atau agnostik. Gua hanya cenderung seringkali lalai menjalankannya, itu gua akui. Tapi tentang keyakinan gua akan Tuhan, i can say it with no doubt, “I believe in Allah with all my heart”, that’s what we call faith, right? Jadi, gua punya iman akan sesuatu. Dan pada hukum-hukum alam yang terjadi secara natural, gua pun sangat percaya. Ada pepatah seperti ini, “Hidup itu bagai sebuah roda”. Ya, nggak selamanya kita berada di atas maupun di bawah. Semuanya berputar sesuai takdir dari-Nya. Gua pernah ngerasain hidup di atas, berkecukupan, bahkan lebih. Nggak berlebihan ataupun bener-bener melejit sih, cuma yang jelas lebih dari cukup. Keluarga sempurna, orangtua lengkap, dengan dua kakak lelaki gua. It was just normal, so would i ask for more? Nope, It was more than enough for me.
Tapi tanpa gua sangka, tanpa rencana, tanpa adanya pertanda sedikitpun, semuanya berubah. Bokap meninggal, untuk biaya sakitnya aja butuh uang yang nggak sedikit. Belum stabil keadaan keluarga, 3 tahun kemudian, kakak gua meninggal. I mean, hello God!! Belum cukup ya cobaan yang Kau berikan? Don’t you know that I’m more than just tired.. I can’t even breath well.. Dan tiba-tiba, segala sesuatu berubah menjadi begitu sulit dan menguras emosi. I just couldn’t tell anybody and it hurt me like shit. Rasanya sakit untuk selalu menelan berbagai emosi yang terlalu sulit untuk diungkapkan, simply karena gua takut orang-orang nggak akan mau mengerti.

Hampir sepanjang masa remaja, gua hidup dengan pandangan penuh simpati serta kasihan dari orang-orang. Rasanya gua pengen teriak, STOP DOING THAT!! I’m not that fragile!! Gua nggak akan pecah, justru rasa kasian kalianlah yang membunuh rasa empati dan simpati di dalam diri gua. It didn’t help at all, all of the symphaty. It made me sick!
Dan hal apalagi yang bisa gua lakuin selain mengeraskan hati dan perasaan gua. Kalo nggak gitu agaknya gua bakal susah untuk maju, terus menerus tenggelam dalam kesedihan yang nggak habis-habis. Walaupun jujur gua kayaknya berhak untuk merasa menderita dan iri terhadap kebahagiaan orang lain. Tapi pada akhirnya gua memilih untuk mengalah. Menjalani hidup dengan topeng, bersabar, lebih berusaha menyesuaikan diri agar orang bisa menerima gua yang baik-baik saja, biarpun sebenernya nggak.
But i did it! Gua ternyata sanggup melewati masa-masa sulit itu. Dan gua bisa meraih kembali kehormatan dan pengakuan dari orang-orang kalo gua nggak lemah. Sekaligus juga membuktikan betapa adilnya Tuhan yang dengan pasti memutar kembali roda di hidup gua, memberikan gua sebuah kesempurnaan yang lain. Walaupun untuk ini semua entah berapa banyak tangis dan amarah yang harus dikeluarkan, betapa banyak kemarahan dan sakit hati yang terpaksa dipendam. But it’s just worth it. It is worth every second...
So am i weak inside? Do i pretend to be strong outside?
I don’t know. Gua nggak merasa kuat, ada banyak hal yang nggak bisa gua terima atau maafkan, gua rasa semua orang punya sisi tersebut. Tapi kalau itu berarti gua lemah, I deny! Kategori lemah atau kuat di dunia sebenernya nggak ada yang tau takarannya. Buat gua, orang yang kuat secara mental adalah orang yang nggak pernah menyerah, seberat apapun cobaan yang dia rasakan, sesulit apapun hidup yang dijalaninya. Gua sadar belum sampai tahap itu. Mengeluh, sering. Menyalahkan org lain, udah nggak keitung berapa kali. Tapi kalo sampai hari ini gua masih bisa bersikap sewajarnya dan menikmati hidup, itu berarti gua belum menyerah pada keadaan. Sesulit apapun gua nggak akan mau kalah. Atas gua terdapat doa dan harapan orang tua gua. Jadi gua nggak berhak menyia-nyiakan hidup.
Gua nggak bilang gua org yang kuat dan gua juga nggak merasa harus membuktikan pada dunia bahwa gua bukan orang yang lemah. Gua hanya ingin dihargai, untuk semua hal buruk yang terjadi dan atas semua sakit hati, sehingga suatu hari nanti kita semua bisa dengan lapang dada berbagi kesusahan hati dan saling menguatkan. :)
Jujur kata-kata dari salah seorang temen gua itu kemaren bikin gua kesel, marah, dan sedih. Apa selama ini gua emang berusaha tampil sok kuat, nggak peduli-an, dan sinis? Dan apakah emang bener gua ini punya mental dan jiwa yang lemah, rapuh? Who the hell do you think you are, saying that i’m weak inside? You even have no idea what kind of life i’ve been through all of these years! Gua jujur merasa sangat tertohok. Di-judge lemah, dikasihani secara tidak langsung.
Gua nggak menyalahkan teman gua itu. Dia nggak begitu kenal gua, belum lama juga. Cuma gua jadi bertanya-tanya, sebenernya definisi jiwa dan mental yang kuat tuh yang seperti apa? Apa yang tahan banting? Selalu sabar dalam menerima cobaan? Atau hanya sekedar tercermin dari tampilan si empunya yang bijaksana, berketuhanan, berkeimanan yg teguh, dan memiliki segudang kata-kata nasihat untuk segala jenis masalah, seakan-akan menujukkan klo dia adalah orang yang sudah sangat banyak makan asam garam hidup sehingga punya solusi untuk segalanya? Begitu?
I do believe in God, and do have faith that God is fair in His own way. Hanya bedanya, gua melewati tahap yang bisa dibilang pahit untuk memiliki keyakinan yang begitu rupa. Apakah gua alim? Nggak sama sekali. Gua sering menyebut diri gua sendiri kafir, walaupun belum bisa disebut atheis atau agnostik. Gua hanya cenderung seringkali lalai menjalankannya, itu gua akui. Tapi tentang keyakinan gua akan Tuhan, i can say it with no doubt, “I believe in Allah with all my heart”, that’s what we call faith, right? Jadi, gua punya iman akan sesuatu. Dan pada hukum-hukum alam yang terjadi secara natural, gua pun sangat percaya. Ada pepatah seperti ini, “Hidup itu bagai sebuah roda”. Ya, nggak selamanya kita berada di atas maupun di bawah. Semuanya berputar sesuai takdir dari-Nya. Gua pernah ngerasain hidup di atas, berkecukupan, bahkan lebih. Nggak berlebihan ataupun bener-bener melejit sih, cuma yang jelas lebih dari cukup. Keluarga sempurna, orangtua lengkap, dengan dua kakak lelaki gua. It was just normal, so would i ask for more? Nope, It was more than enough for me.
Tapi tanpa gua sangka, tanpa rencana, tanpa adanya pertanda sedikitpun, semuanya berubah. Bokap meninggal, untuk biaya sakitnya aja butuh uang yang nggak sedikit. Belum stabil keadaan keluarga, 3 tahun kemudian, kakak gua meninggal. I mean, hello God!! Belum cukup ya cobaan yang Kau berikan? Don’t you know that I’m more than just tired.. I can’t even breath well.. Dan tiba-tiba, segala sesuatu berubah menjadi begitu sulit dan menguras emosi. I just couldn’t tell anybody and it hurt me like shit. Rasanya sakit untuk selalu menelan berbagai emosi yang terlalu sulit untuk diungkapkan, simply karena gua takut orang-orang nggak akan mau mengerti.

Hampir sepanjang masa remaja, gua hidup dengan pandangan penuh simpati serta kasihan dari orang-orang. Rasanya gua pengen teriak, STOP DOING THAT!! I’m not that fragile!! Gua nggak akan pecah, justru rasa kasian kalianlah yang membunuh rasa empati dan simpati di dalam diri gua. It didn’t help at all, all of the symphaty. It made me sick!
Dan hal apalagi yang bisa gua lakuin selain mengeraskan hati dan perasaan gua. Kalo nggak gitu agaknya gua bakal susah untuk maju, terus menerus tenggelam dalam kesedihan yang nggak habis-habis. Walaupun jujur gua kayaknya berhak untuk merasa menderita dan iri terhadap kebahagiaan orang lain. Tapi pada akhirnya gua memilih untuk mengalah. Menjalani hidup dengan topeng, bersabar, lebih berusaha menyesuaikan diri agar orang bisa menerima gua yang baik-baik saja, biarpun sebenernya nggak.
But i did it! Gua ternyata sanggup melewati masa-masa sulit itu. Dan gua bisa meraih kembali kehormatan dan pengakuan dari orang-orang kalo gua nggak lemah. Sekaligus juga membuktikan betapa adilnya Tuhan yang dengan pasti memutar kembali roda di hidup gua, memberikan gua sebuah kesempurnaan yang lain. Walaupun untuk ini semua entah berapa banyak tangis dan amarah yang harus dikeluarkan, betapa banyak kemarahan dan sakit hati yang terpaksa dipendam. But it’s just worth it. It is worth every second...
So am i weak inside? Do i pretend to be strong outside?
I don’t know. Gua nggak merasa kuat, ada banyak hal yang nggak bisa gua terima atau maafkan, gua rasa semua orang punya sisi tersebut. Tapi kalau itu berarti gua lemah, I deny! Kategori lemah atau kuat di dunia sebenernya nggak ada yang tau takarannya. Buat gua, orang yang kuat secara mental adalah orang yang nggak pernah menyerah, seberat apapun cobaan yang dia rasakan, sesulit apapun hidup yang dijalaninya. Gua sadar belum sampai tahap itu. Mengeluh, sering. Menyalahkan org lain, udah nggak keitung berapa kali. Tapi kalo sampai hari ini gua masih bisa bersikap sewajarnya dan menikmati hidup, itu berarti gua belum menyerah pada keadaan. Sesulit apapun gua nggak akan mau kalah. Atas gua terdapat doa dan harapan orang tua gua. Jadi gua nggak berhak menyia-nyiakan hidup.
Gua nggak bilang gua org yang kuat dan gua juga nggak merasa harus membuktikan pada dunia bahwa gua bukan orang yang lemah. Gua hanya ingin dihargai, untuk semua hal buruk yang terjadi dan atas semua sakit hati, sehingga suatu hari nanti kita semua bisa dengan lapang dada berbagi kesusahan hati dan saling menguatkan. :)

1 opinions:
...karena itulah dbikin pribahasa 'dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu'...
Yg pasti bgamanapun komentar org lain tentang km mnunjukkan klo org tersebut msh care ama km n km g idup sndirian, mskipun g slalu dalam hal yg positip,..
nb: maap klo g brkenan ato g nyambung,, :D
Post a Comment