Friday, February 19, 2010

The Act of Giving

Kawan, ijinkan saya untuk membagi sedikit cerita dan pandangan saya tentang sesuatu. Apa yang timbul dalam benak kawan-kawan jika mendengar kata sedekah, saat mendengar pertanyaan Sudahkah kamu bersedekah hari ini?.

Dulu saya berpikir, apa gunanya saya bersedekah. Toh saya mendapatkan uang dari orang tua ataupun dari hasil saya bekerja. Bagi saya saat itu, tidaklah ada sangkut pautnya sama sekali rejeki yang susah-susah saya dapatkan dengan bagian dari rejeki mereka. Kalau mereka ingin uang dan kenyamanan, mereka pun harusnya bekerja seperti saya, minimal berusaha. Apalagi melihat kenyataan bahwa jaman sekarang, meminta sedekah dijadikan mata pencaharian berbasis penipuan dan pengeksploitasian.

Tetapi kawan, saya ternyata salah. Kita tidak bisa memakai hitung-hitungan logika tentang siklus hidup dan takdir manusia. Sama seperti kita tidak bisa menentukan batas keadilan. Hidup manusia mengikuti jalan takdir dari Tuhan, karena itulah dari awal kita menghirup napas di bumi, kita tidaklah bisa memilih. Miskin, kaya, besar, kecil, bukanlah manusia yang mengkondisikan. Dan dengan perbedaan yang diberikan Tuhan, kita diberikan keleluasaan dalam menggunakan akal dan perasaan. Segala kelebihan yang kita dapatkan, bukanlah karena diri kita, tetapi karena Tuhan menghendaki. Karena itulah, kita sebagai manusia tidak boleh takabur dan riya. Jika di sekitar kita terdapat sesama yang kekurangan, maka hendaknyalah sebagai manusia yang diberi lebih oleh Tuhan, kita sedikit membagi apa yang kita punya, sebelum akhirnya Tuhan murka dan mengambil lagi apa yang telah dititipkannya dari kita. Saat kita kehilangan harta di dunia fana, pernahkah kita merenung bahwa semua itu hanyalah cara Tuhan menegur kita umatnya yang lalai bersedekah. Sekedar mengingatkan lagi pada kita manusia untuk berhati-hati agar posesivitas kita terhadap harta tidak melebihi besarnya rasa kemanusiaan kita.

Menyadari hal itu, saya jadi memaknai arti sedekah. Saat berbagi, saya merasa kaya. Saat mendengar kata terima kasih dari mereka, saya merasa “manusia”. Dan melihat senyum bahagia mereka atas pemberian saya yang tidaklah luar biasa, saya merasa bersyukur.




Banyak teman-teman saya takut bersedekah pada pengamen atau peminta-minta di jalanan. Seperti pemikiran saya sebelumnya, mereka takut sedekah mereka akan sia-sia. “Entah akan dipakai uang dari gua untuk apa, kalau tidak dikumpulkan penadah, mereka belikan barang yang aneh-aneh. Nggak berguna dong sedekah gua!” begitulah kira-kira yang akan mereka katakan. Saya memiliki pandangan berbeda. Bersedekah bagi saya haruslah berdasarkan keikhlasan. Saya bersedekah menggunakan naluri. Tidak peduli siapa orangnya, dimana saya bertemu, dan dalam kondisi apa saya berada, ketika hati saya tergerak untuk memberi, faktor A B C D akan saya lupakan. Saya tidak peduli uang itu akan dipakai untuk apa. Dalam pemikiran saya, bagaimanapun juga mereka tidaklah seberuntung saya. Menghabiskan tenaga untuk kuatir uang kita akan diapakan, sama saja mengharapkan pamrih. Dan itu berarti kita tidaklah ikhlas.

Kawan, dalam agama islam, Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 261,
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui”.
Tidak akan sia-sia sedekah kita asal dijalankan dengan benar dan disertai keikhlasan karena Allah SWT. Tanpa bermaksud untuk mendoktrin, saya menegaskan bahwa janji Allah dalam surat tersebut adalah benar sebenar-benarnya. Dengan cara yang unik dan berbeda-beda, Allah SWT telah membuktikan kebenaran isi firman-Nya kepada saya. Sempat saya berpikir, penggantian dari-Nya pun berupa uang. Tidak juga kawan. Rejeki yang saya rasakan ternyata tidaklah hanya berbentuk uang. Terkadang dapat berupa kemudahan dalam melakukan sesuatu ataupun dalam bentuk bantuan melalui orang lain saat saya berada dalam kesulitan.

Tulisan saya ini tidak bermaksud menggurui ataupun mendoktrin Anda tentang agama tertentu. Saya hanya memaparkan pandangan dan pengalaman saya tentang bersedekah. Saya hanya ingin berbagi betapa menyenangkannya bersedekah itu. Maka saya menganjurkan untuk bersedekahlah kawan. Rasakanlah juga kebahagiaan yang saya rasakan. Jangan tunggu bencana untuk mencari sesama kita yang menderita. Lihatlah sekitar Anda. Tidakkah Anda merasa sedih melihat anak-anak usia sekolah, dengan seragam sekolah melekat pada tubuh mereka, menyempatkan diri berjualan koran hanya untuk seribu dua ribu rupiah. Apakah hati anda tidak tergerak melihat bapak tua yang sudah uzur menarik becak di puncak terik matahari demi upah yang tidak seberapa. Sadarilah, banyak cara bersedekah dan banyak sesama kita yang membutuhkannya. Kesampingkan dulu untung rugi dan buang jauh-jauh kalkulator Anda. Bersedekah akan memanusiakan diri kita yang makin terjajah oleh individualisme dan kapitalisme dan mengajarkan kita untuk kembali peduli. :)

5 opinions:

Hanifa Faozia said...

wow, well said

ta, kayaknya jurusan lo bukan cuma perpajakan yah... lo diem-diem ngambil antropologi yah?

Narita said...

hahhahahha...kangen berat gua ama lo han...kapan rencana pulang?

gak lah beb, mana sanggup gua belajar antrop
cuma baru menyadari aja, bgtu punya penghasilan sendiri, rasanya gak cukup berarti aja klo cuma diabisin ato ditransfer jadi barang2
makanya gua coba utk berbagi dan rasanya sangat amat menyenangkan
dan sekarang gua ngerasain banyak hikmahnya...try it by yourself sweetheart, and feel the magic of giving :D

yusrizal said...

wah, sejak kapan jadi kalem gitu, mpok?? :p

niko said...

good point... slama ini gw jg ngrasa percuma gw ngasih klo toh ujung2nya dipake buat hal-hal yg gak berguna buat mereka dan itu semua emang karena gw gak ikhlas aja ngasihnya... makasih pencerahannya..

Phucephuce said...

Wiyh wiyh wiyh.. Ada ayat di blogmu menk.. ;)