Dimulai dengan obrolan santai tentang gua dan abang gua di perantauan, out-of-nowhere Tante gua cerita tentang Papa. Dia cerita kalo Papa pernah bilang gini ke dia, "Mbak, apa semua penderita hepatoma (kanker hati) pasti mati?? Saya mau lawan penyakit ini! Saya mau sembuh..". Deg!! Rasanya jantung gua berhenti sepersekian detik dan nyaris gua keselek ketupat yang lagi gua makan. Sedih dengernya.
Hepatoma atau Hepatocellular Carcinoma atau Kanker Sel Hati adalah penyakit yang sangat mengerikan. Setidaknya itu yang gua simpulkan berdasarkan pengalaman gua ngeliat Papa. Dulu Papa berbadan tambun dan segar tapi semenjak penyakit itu muncul, Beliau jadi kurus dan susah makan. Menurut Tante gua lever Papa udah menghitam seluruhnya. Tadinya kalau masih ada bagian yang sehat, bagian hitamnya bakal dibuang. Kalo udah hitam semua begitu apa mau dikata, nggak ada lagi yang bisa diusahakan.
Tante gua bilang, dia cerita semua itu supaya gua dan abang gua mencontoh Papa yang pantang menyerah. Walaupun Beliau tahu hampir nggak mungkin lawan penyakit itu, Papa tetap punya tekad untuk sembuh. Om gua juga bilang, Papa dulu pengeeeeennn banget masuk Kedokteran. Dulu, beliau sampai ikutan tinggal di asrama para calon dokter. Tapi ya pada masa itu, masuk kedokteran susah banget. Dari segi kemampuan, biaya, apalagi Papa cuma berasal dari kampung pesisir di Lampung. Pada akhirnya, Beliau menyerah dan ngelepas cita-citanya.
Om gua juga cerita, dulu waktu Beliau dan Papa diajak jalan-jalan Almarhum Pakde Enar ke daerah Kota, Papa ditraktir bakso untuk pertama kalinya. Saking Papa pikir bakso itu makanan mahal, Papa cuma makan mienya dan nggak berani makan baksonya. Beliau juga pernah mengira bahwa oncom yang dimasak Tante gua dulu adalah telur ikan. "Enak", kata Papa.
Gua jadi mikir, betapa gua nggak menghargai hidup gua saat ini. Sering gua mengeluh untuk hal-hal yang nggak perlu. Semasa hidup, Papa selalu ngasih yang terbaik buat gua dan keluarga. Sekali pun Papa nggak pernah bawa-bawa betapa dulu Beliau hidup susah untuk menyambung hidup. Beliau mengajarkan gua untuk nggak menyerah, bukan dari nasehat atau kata-katanya. Gua justru belajar dari cerita orang lain tentang dirinya, tentang keteladanannya. Papa bukan orang kota yang bisa sekolah ke sekolah mahal apalagi luar negeri. Beliau cuma anak pesisir yang merantau ke Jakarta. Tapi Beliau membuktikan bahwa bukan harta yang menjamin keberhasilan seseorang. Sampai akhir hayatnya, Papa tetap dikenal sebagai Marketing Manager handal, ahli formula luar biasa, dan dosen yang sangat kooperatif.
I'm very proud of you Dad..











